7 Penyebab Tekanan Darah Rendah yang Perlu Diwaspadai, Jangan Anggap Sepele
Pernahkah Anda mengalami kondisi saat sedang beraktivitas, lalu tiba-tiba terasa pusing atau pandangan menggelap? Perlu diwaspadai, hal tersebut bisa menjadi tanda hipotensi atau tekanan darah rendah. Tekanan darah rendah sering kali memberikan respons yang cukup jelas, seperti tubuh terasa lemas dan sulit berkonsentrasi akibat aliran oksigen ke otak yang tidak optimal. Pada sebagian orang, seperti atlet, kondisi ini mungkin tergolong normal. Namun, bagi individu dengan aktivitas padat, hipotensi sebaiknya tidak diabaikan karena dapat mengganggu produktivitas dan keselamatan.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali penyebab tekanan darah rendah sejak dini. Jangan menunggu hingga terjadi kondisi yang lebih serius, seperti pingsan di tempat umum. Dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan menjaga pola hidup seimbang, Anda dapat tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan aman dan nyaman. Berikut ini 7 penyebab utama tekanan darah rendah (hipotensi) yang perlu Anda waspadai:
1. Dehidrasi atau Kekurangan Cairan Tubuh
Dehidrasi adalah penyebab paling umum dari turunnya tekanan darah secara drastis. Ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang dikonsumsi baik karena kurang minum, keringat berlebih, diare, atau muntah volume darah di dalam pembuluh darah akan menyusut. Berkurangnya volume darah ini secara otomatis menurunkan tekanan yang mendorong darah ke seluruh tubuh. Dalam kondisi dehidrasi berat, tubuh tidak lagi mampu mempertahankan kestabilan tekanan darah, yang dapat berujung pada rasa pusing yang hebat dan tubuh yang terasa sangat lunglai.
2. Masalah pada Jantung
Jantung berfungsi sebagai pompa utama yang mendistribusikan darah. Jika pompa ini mengalami gangguan, tekanan darah tentu akan terdampak. Beberapa kondisi jantung yang memicu hipotensi antara lain bradikardia (detak jantung yang terlalu lambat), masalah pada katup jantung, serangan jantung, hingga gagal jantung. Dalam kondisi ini, jantung tidak mampu memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sistemik tubuh, sehingga angka tekanan darah pun merosot di bawah batas normal.
3. Gangguan Sistem Endokrin
Sistem hormon memiliki peran besar dalam mengatur tekanan darah. Gangguan pada kelenjar tiroid (baik hipotiroidisme maupun hipertiroidisme) dapat mengacaukan ritme sirkulasi darah. Selain itu, kondisi seperti insufisiensi adrenal (penyakit Addison) dan hipoglikemia (kadar gula darah rendah) juga sering kali disertai dengan tekanan darah rendah. Hormon-hormon yang seharusnya mengatur keseimbangan garam dan air dalam darah tidak berfungsi optimal, sehingga tekanan darah menjadi tidak stabil.
4. Kehamilan dan Perubahan Sirkulasi
Selama masa kehamilan, terutama pada 24 minggu pertama, sistem sirkulasi wanita meluas dengan sangat cepat untuk mendukung pertumbuhan janin. Hal ini menyebabkan tekanan darah cenderung menurun secara alami. Meskipun umumnya bersifat sementara dan akan kembali normal setelah persalinan, hipotensi pada ibu hamil tetap harus dipantau agar tidak mengganggu suplai oksigen ke janin atau menyebabkan ibu merasa pingsan saat beraktivitas.
5. Kehilangan Darah Akibat Cedera
Kehilangan darah dalam jumlah besar, baik karena luka luar yang parah maupun perdarahan internal (seperti pada lambung atau organ dalam lainnya), menyebabkan penurunan volume darah yang sangat tajam. Penurunan volume ini adalah penyebab fisik paling langsung dari hipotensi akut. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menyebabkan tubuh masuk ke dalam tahap syok yang membahayakan nyawa karena organ-organ penting berhenti berfungsi akibat ketiadaan tekanan aliran darah.
6. Efek Samping Obat-obatan Tertentu
Konsumsi obat-obatan tertentu dapat memicu penurunan tekanan darah sebagai efek samping yang tidak diinginkan. Beberapa jenis obat tersebut antara lain diuretik (obat pembuang kelebihan cairan), beta-blocker untuk masalah jantung, obat antidepresan, hingga obat untuk penyakit Parkinson. Penting bagi pasien untuk selalu berkonsultasi dengan dokter mengenai dosis yang tepat agar manfaat terapi tidak terganggu oleh penurunan tekanan darah yang ekstrem.
7. Kekurangan Nutrisi dalam Diet harian
Tubuh membutuhkan vitamin B12, folat, dan zat besi untuk memproduksi sel darah merah dalam jumlah yang cukup. Jika seseorang mengalami kekurangan nutrisi ini, jumlah sel darah merah akan berkurang (anemia). Akibatnya, darah menjadi lebih encer dan volume pembawa oksigen menyusut, yang secara langsung berkontribusi pada kondisi hipotensi kronis. Tanpa nutrisi yang memadai, tubuh kehilangan kemampuan untuk mempertahankan tekanan darah pada level yang sehat.
Ikan Gabus Bisa Mempercepat Penyembuhan Luka ? - Medikacare
Ikan Gabus Si Pemakan Segala dan dapat bernafas di Udara - Medikacare
Cara mengatasi hemoroid - Medikacare
Cara mengatasi infeksi luka pasca operasi caesar - Medikacare